Menjadi Jagung Simalakama

‚Äč
Boleh jadi Monsanto untuk sementara waktu bersenang hati tatkala produk benih Jagung hibrida terbarunya, DeKalb, laris di pasar Indonesia dan dunia. Lebih menggembirakan lagi, Kementerian Pertanian (Kementan) Indonesia bersikukuh untuk menggalakkan swasembada jagung ditahun 2017.

Tentunya ini menjadi kabar baik tersendiri bagi Monsanto untuk mendukung program tersebut.

Alhasil belum sampai akhir tahun, data BPS bulan agustus 2017 menyebutkan bahwa produksi jagung Indonesia diperkirakan sementara mencapai 26,00 juta ton atau naik 10,31 persen dari tahun sebelumnya. Sedikit demi sedikit, geliat swasembada jagung di tahun 2017 mulai tercium baunya.

Akan tetapi, tampaknya Kementan dan Monsanto harus mulai pasang otak dan badan menghadapi semester kering bulan depan. Mengapa? Karena ternyata produk benih hibrida yang “mendunia” tersebut menunjukkan gejala ke-simalakama-annya terhadap lingkungan.

Dilansir dari laman Royal Society Open Science, Dr. Bruce Tabashnik dari Universitas Arizona, AS, sedikit membenarkan fenomena DeKalb yang mendunia dan juga memperingatkan dampaknya.

Dalam penelitiannya, ia menjelaskan bahwa DeKalb merupakan produk GMO yang membawa gen Bt protein Cry1Ab (Bacterium thuringiensis) yang dapat membunuh hama ulat Helicoperva sp ketika ulat tersebut menyerangnya. Hama tersebut diyakini sebagai penyumbang kerugian terbesar terhadap penurunan produksi jagung dunia dan tentunya Indonesia.

DeKalb merupakan terobosan baru dalam perkembangan bioteknologi. Tetapi, nampaknya efek perubahan iklim global tidak berpihak pada DeKalb.

Masih dalam penelitian Dr. Bruce, fakta yang mengejutkan terjadi pada lahan jagung di Maryland, AS. Hampir seluruh tanaman jagung disana terserang oleh hama Helicoperva sp, padahal jagung yang ditanam adalah jagung DeKalb. Hal ini diduga kuat karena peningkatan temperatur ekstrim memasuki musim kering sehingga menyebabkan percepatan kemampuan resistensi Helicoperva sp terhadap tanaman jagung DeKalb. Disisi lain, tanaman jagung DeKalb juga mengalami cekaman suhu tinggi sehingga mempengaruhi metabolisme di dalam tanaman itu sendiri dan tentunya kemampuan produksi senyawa Bt untuk membunuh hama Helicoperva juga terganggu.

Terakhir, penelitian tersebut tentunya menjadi peringatan dini kepada Kementan dan Monsanto jikalau tetap bersih kukuh menghadapi bulan kering kedepan hingga akhir 2017 untuk mewujudkan apa yang dinamakan swasembada jagung.

Disatu sisi, GMO memberikan keuntungan besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman pangan. Akan tetapi disatu sisi yang lain, harus ada pengorbanan yang harus dibayar. Dampak terhadap lingkungan walaupun kecil bukanlah persoalan sepele. Harus ada perhatian khusus untuk tetap menjaga kestabilan ekosistem demi masa depan pangan yang lebih baik.

Dan yang terbaik diantara paling mutakhir adalah kembali ke alam. Back to Nature, Grow Your Own Food. Dengan begitu kita bisa menciptakan kedaulatan pangan dan juga keseimbangan ekosistem.

Advertisements